Selasa, 05 Mei 2015

tugas praktek faal pertama



LEMBAR PRAKTIKUM PSIKOLOGI FAAL
Nama Mahasiswa        : Fika Rahmawati

NPM                             : 14514200

Tanggal Pemeriksaan : 17 April 2015
Nama Asisten      : 1. Laras Dwi Puspita       

                                2. Amalia Oktaviani

Paraf Asisten       :

1.      Percobaan                              : Indra Penglihatan
Nama Percobaan                   : Refleks (Reaksi Pupil)
Nama Subjek Percobaan      : Maytri Nur Adha
Tempat Percobaan                : Laboraturium Psikologi Faal
a.         Tujuan Percobaan       : Mengetahui serta memahami reaksi-reaksi yang terjadi pada pupil mata.
b.        Dasar Teori                     : Pupil yang normal akan sama antara mata kiri dan mata kanan. Berukuran 2-4 mm. Bentuk pupil yang normal adalah bulat. Pupil yang berbentuk oval mungkin merupakan tanda awal herniasi tentorial. Pupil yang berbentuk key hold dapat ditemukan pada pasien setelah operasi katarak. Secara normal, pupil akan memberikan reaksi yang cepat terhadap cahaya terang, karena pupil berfungsi sebagai diafragma yang mengatur jumlah sinar yang sampai ke retina. Jika reaksi tersebut lambat, itu menunjukkan adanya penekanan parsial pada nervus III, sedangkan jika penekanan tersebut komplit maka reaksi tersebut tidak akan dijumpai. Bila benda dekat dengan mata maka otot berkontraksi agar legkung lensa meningkat. Jika benda jauh, maka siliaris berkontraksi agar pipih supaya bayangan benda pada retina menjadi tajam. Akomodasi mengubah ukuran pupil, kontraksi iris, kontraksi iris membuat pupil mengecil dan melebar. Jika sinar terlalu banyak maka pupil menyempit agar sinar tidak seluruhnya masuk ke dalam mata. Dalam keadaan gelap pupil melebar agar sinar banyak ditangkap. Respon dalam melihat benda : jika mata melihat jauh kemudian melihat dekat maka pupil berkontraksi agar terjadi peningkatan ke dalam lapang penglihatan.
c.         Alat yang Digunakan     : Cermin, senter, dan sedotan (15mm)
d.        Jalannya Percobaan     : 1. Salah satu mata ditutup dengan tangan lalu mata yang satunya diberi cahaya senter.
   2. Kita memegang kaca, lalu dengan senter diterangi bola matanya.
   3. Fokuskan satu titik cahaya di sedotan menggunakan senter, lalu arahkan ke bola mata.  
e.         Hasil Percobaan    : 1. Hasil Percobaan : 1.1 Pupil bergerak dan lama-lama mengecil
  1.2 Pupil dimata sedikit-sedikit bergerak
  1.3 Pupil dimata sedikit-sedikit bergerak
  2.  Hasil Sebenarnya : 1. Mata yang terkena cahaya secara tiba-tiba, pupil akan mengecil cepat dan iris mendekat cepat. Mata yang tidak terkena cahaya tiba-tiba, pupil mengecil secara lambat dan iris mendekat secara lambat
2. Pupil mata terantung iris (semacam otak kecil), iris mempunyai 2 sifat yaitu :
3. Mendekati jika cahaya terlalu cepat
4. Menjauhi ketika cahaya masuk terlalu redup
5. Jika mata tidak siap terkena cahaya, pupil mengecil secara langsung, namun jika siap terkena cahaya, pupil mengecil perlahan
f.         Kesimpulan                     : Mata adalah alat indra yang digunakan untuk melihat suatu objek. Bagian-bagian yang ada pada mata kita ada kornea, pupil, iris, aquos humor, lensa, vitrous humor, retina, lensa, sklera,saraf optik, bintik kuning, blind spot dan khoroid. Pupil yang normal akan sama antara mata kiri dan mata kanan. Berukuran 2-4 mm. Bentuk pupil yang normal adalah bulat. Secara normal, pupil akan memberikan reaksi yang cepat terhadap cahaya terang, karena pupil berfungsi sebagai diafragma yang mengatur jumlah sinar yang sampai ke retina. Jika reaksi tersebut lambat, itu menunjukkan adanya penekanan parsial pada nervus III, sedangkan jika penekanan tersebut komplit maka reaksi tersebut tidak akan dijumpai.


2.      Nama Percobaan                   : Aliran Darah Retina (Peristiwa Entropis)
Nama Subjek Percobaan      : Maytri Nur Adha
Tempat Percobaan                : Laboratorium Psikologi Faal
a.         Tujuan Percobaan         : Melihat pada mata terdapat eritrosit yang berjalan sepanjang pembuluh darah arteri/vena
b.         Dasar Teori                     :
c.         Alat yang Digunakan     : Senter dan Kaca Reben (Kaca Hitam)
d.        Jalannya Percobaan      : 1. Subjek percobaan melirik ke arah kanan lalu saya melihat aliran darah meggunakan senter 2. Subjek percobaan melirik ke arah kanan lalu saya melihat aliran darah retina menggunakan senter dan kaca reben
e.                   Hasil Percobaan             : 1. Hasil Percobaan : 1.1 Terlihat garis merah seperti aliran darah di matanya. 1.2 Terlihat garis merah seperti aliran darah di matanya.
2.      Hasil Sebenarnya : Jika praktikan melirik ke arah kiri dan dari arah kanan matanya diberi cahaya senter dan sebaliknya, maka retina akan terlihat pembuluh arteri (pembuluh darah yang membawa darah dari jantung ke seluruh tubuh disebut pembuluh nadi)/vena (pembuluh balik) yang bergerak.

3.      Nama Percobaan                   : Visus
Nama Subjek Percobaan      : Fika Rahmawati
Tempat Percobaan                : Laboratorium Psikologi Faal
a.         Tujuan Percobaan        : Mengetahui ketajaman penglihatan seseorang
b.         Dasar Teori                     : Untuk dapat melihat, stimulus (cahaya) harus jatuh di reseptor dalam retina kemudian diteruskan ke pusat penglihatan (fovea centralis). Untuk dapat melihat dengan baik perlu ketajaman penglihatan. Ketajaman penglihatan inilah yang disebut visus. Faktor-faktor yang mempengaruhi kekuatan visus adalah:
a. Sifat fisis mata, meliputi ada tidaknya aberasi (kegagalan sinar untuk berkonvergensi atau bertemu di satu titik fokus setelah melewati suatu sistem optik),besarnya pupil, komposisi cahaya, ftksasi objek, dan mekanisme akomodasinya dengan elastisitas musculusciliarisnya yang dapat menyebabkan ametropia yang meliputi :
1) Myopia, sinar sejajar axis pada mata tak berakomodasi akan memusat di muka
retina, sehingga bayangan kabur. Dapat disebabkan oleh: axis terlalu panjang
kekuatan refraksi lensa terlalu kuat
2) Hypermetropia, sinar sejajar axis pada mata yang tak berakomodasi akan memusat di belakang retina, sehingga bayangan kabur. Dapat disebabkan oleh:
axis bola mata terlalu pendek kekuatan refraksi lensa kurang kuat
3) Astigmatisma, kesalahan refraksi sistem lensa mata yang biasanya disebabkan oleh komea yang berbentuk bujur sangkar atau jarang-jarang, dan lensa yang berbentuk bujur).
b. Faktor stimulus, yang meliputi kontras (terbentuknya bayangan benda yang berwama komplementemya), besar kecilnya stimulus, lamanya melihat, dan intensitas cahaya.
c. Faktor Retina, yaitu makin kecil dan makin rapat conus, makin kecil minimum
separable Uarak terkecil antara garis yang masih terpisah).
Untuk mengetahui visus adalah dengan menggunakan suatu pecahan matematis yang menyatakan perbandingan 2jarak, yang juga merupakan perbandingan ketajaman penglihatan seseorang dengan ketajaman penglihatan orang normal. Dalam praktek digunakan optotype dari Snellen yang rumusnya adalah sebagai berikut:
V= d
      D
Keterangan:V = Visus
d=jarak antara optotype dengan subjek yang diperiksa
D =jarak sejauh mana huruf-huruf masih dapat dibaca mata normal
Visus berkaitan erat dengan mekanisme akomodasi seperti yang telah disebutkan di atas, adanya kontraksi akan menyebabkan peningkatan kekuatan lensa, sedangkan relaksasi menyebabkan pengurangan kekuatan. Akomodasi memiliki batas maksimum, jika benda yang telah fokus didekatkan lagi, maka bayangan akan kabur. Titik terdekat yang masih dilihat jelas oleh mata dengan akomodasi maksimum disebut punctum proximum (PP).
Makin tua usia seseorang, makin jauh jarak PP; disamping itu elastisitas lensa juga berkurang dan daya mencembung juga berkurang (disebut PRESBYOPIA). Berkurangnya elastisitas oleh proses penuaan adalah akibat terjadinya kalsifikasi (pengapuran). Endapan-. endapan kapur ini menghambat elastisitas mata. Kalsifikasi ini juga dapat menyebabkan katarak pada kornea. Titik terjauh yang masih dapat dilihat dengan jelas tanpa mata berakomodasi adalah tidak terbatas."Kondisi ini disebut denganpunctum remotum (PR).

c.         Alat yang Digunakan     : Snellen Chart (Optotype Snellen)
d.        Jalannya Percobaan      : Dari jarak yang sedikit jauh, mata kita ditutup satu lalu melihat ke Optotype Snellen dari jarak 3,5 m
e.         Hasil Percobaan             : 1. Hasil Percobaan : Mata kiri = 60 dan Mata kanan = 200
Ketika dihitung mengguakan rumus visus maka hasilnya :
a)      V= d   = 3,5   = 0,0583
      D     60
b)      V= d   = 3,5   = 0,0175
      D      200

  2.  Hasil Sebenarnya : Tidak ada hasil yang sebenarnya
f.          Kesimpulan                     : Jadi, dalam proses penglihatan dibutuhkan ketajaman penglihatan yang digunakan untuk melihat suatu objek tertentu. Ketajaman penglihatan disini disebut dengan Visus. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi ketajaman Visus yaitu sifat fisis mata, faktor stimulus dan faktor retina. Dalam percobaan diatas, kita dapat mengukur tingkat ketajaman mata kita menggunakan Optotype Snellen. Didalam pengukuran menggunakan Optotype Snellen kita dapat mengunakan rumus : V=d/D. Hasil yang sebenarnya dari percobaan itu memang tidak ada karena setiap individu yang mengukur ketajaman matanya menggunakan Optotype Snellen mempunyai hasil yang berbeda-beda.

4.      Nama Percobaan                   : Membedakan warna dan pecampuran warna secara objektif
Nama Subjek Percobaan      : Fika Rahmawati
Tempat Percobaan                : Laboratorium Psikologi Faal
a.         Tujuan Percobaan         : Mengetahui apakah seseorang dapat membedakan warna/buta warna
b.         Dasar Teori                     : Untuk menyelidiki apakah seseorang menderita buta warna atau tidak dapat dilakukan dengan berbagai macam tes,salah satu diantaranya adalah TES HOLMGREN, yaitu tes kemampuan membedakan warna (caranya, pemeriksa mengambil sekumpulan benang-benang wol berturut-turut seutas dengan warna hijau, merah, ungu, dan kuning, kemudian subjek yang diperiksa diminta untuk mencari gulungan benang yang warnanya sama).
c.         Alat yang Digunakan     : Kaca reben, benang wol sebagai warna, kertas berwarna merah, kuning dan hijau
d.        Jalannya Percobaan      : 1. Kaca reben ditaruh diatas kertas dengan warna tertentu
 2. Kumpulan benang dicocokkan dengan warna yang sudah ditentukan oleh asisten laboratorium
e.              Hasil Percobaan             : 1. Hasil Percobaan : 1.1 Kertas warna merah + biru menjadi ungu kertas warna merah + kuning menjadi kuning kertas warna kuning dan biru menjadi hijau
1.2 Salah = 2 Benar = 3
  2.  Hasil Sebenarnya : 2.1 Membedakan warna
Kertas merah + kertas biru = ungu
Kertas merah + kertas kuning =  orange
Kertas biru + kertas kuning = hijau
2.2 Percobaan dengan wol
Percobaan dengan benang wol disebut dengan uji Holmgren hijau merupakan warna penetral.
f.          Kesimpulan                     : Dalam proses percobaan untuk membedakan warna dan pencampuran warna secara objektif kita melakuka dua percobaan yang berbeda. Pertama dengan kaca hitam yang diletakkan di atas kertas karton yang berwarna dan yang kedua menggunakan 1 gulung benang wol yang sudah dicampur menjadi satu atau test Holmgren. Test semacam ini digunakan untuk memeriksa apakah seseorang itu menderita buta warna atau tidak.

5.      Nama Percobaan                   : Diplopia
Nama Subjek Percobaan      : Fika Rahmawati
Tempat Percobaan                : Laboratorium Psikologi Faal
a.         Tujuan Percobaan         : Membuktikan terjadinya diplopia / adanya titik-titik dispar kedua matat yang memberikan kesan rangkap (dobel)
b.         Dasar Teori                     : Diplopia adalah penglihatan kembar yang paling umum dan disebabkan oleh gangguan koordinasi otot kedua mata, sehingga bayangan objek tidak terjatuh pada bagian-bagian retina identik. Titik disparat adalah titik-titik garis benda bayangan yang tidak sejelas garis benda asli. Kesan rangkap dua atau dobel ini terjadi karena titik identik (bintik kuning/fovea nasalis) diganggu karena ada pergeseran letak bintik kuning saat pelupuk mata ditekan. Bila kita melihat satu benda dengan kedua mata maka benda tersebut dapat terlihat dengan baik karena jatuh di titik identik, tetapi bila salah satu bola mata terganggu maka akan terlihat benda rangkap karena tida jatuh di titik identik.
Diplopia atau penglihatan ganda adalah salah satu gangguan penglihatan dimana objek terlihat rangkap dua. Diplopis terbagi menjadi 2 jenis yaitu : 1. Diplopia monokular
Diplopia monokular merupakan keluhan yang dapat diberikan oleh penderita dan sebaiknya diperhatikan adanya kelainan refraksi.diplopia monokular sering dikeluhkan oleh penderita katarak. 2. Diplopa binokular
Diplopia binokular disebabkan karena terjadi miastenis gravis, parase, atau para lisis otot penggerak mata ekstrackuar. Kelainan yang dapat memberikan keluhan diplopia binokular terdapat juga pada aniseikonia dan psikogenetik. Faktor-faktor yang mempengaruhi diplopia adalah faktor yang berhubungan dengan sifat-sifat fisis mata untuk dapat membentuk bayangan nyata dari retina, faktor stimulus yang berhubungan dengan intensitas stimulus cahaya, dan faktor dari retina.
Bayangan dapat terletak berdampingan terhadap yang lainnya, sehingga dikenal bentuk diplopia :
a.       Diplopia Homorin (diplopia tidak bersilang adalah suatu keadaan pada mata dengan julung ke dalam, dimana bayangan terlihat oleh mata yang juling  ke dalam terletak dibagian luar sisi yang sama benda asli nya.
b.      Diplopia Neterosim (diplopia bersilang) terjadi pada mata dengan juling keluar. Dimana benda yang terlihat oleh mata kanan terletak disebelah kiri dan sebaliknya.
c.       Diplopia monokular bilsa melihat dengan satu maya yang dapat dikeluhkan seseorang dengan astigma, histeria, pupil ganda dan permulaan katarak.  
c.         Alat yang Digunakan     : Spidol (alat tulis)
d.        Jalannya Percobaan      : Mata sedikit di tekan, lalu melihat ke arah bolpoin
e.         Hasil Percobaan             : 1. Hasil Percobaan : Bolpoin iu berbayang dan terlihat ada 2
  2.  Hasil Sebenarnya : Benda yang terlihat akan terkesan rangkap (dobel)
f.          Kesimpulan                     : Diplopia atau penglihatan ganda terjadi karena titik garis benda bayangan yang tidak sejelas garis benda asli. Kesan rangkap terjadi karena bintik kuning mata diganggu dengan cara pelipis mata sedikit ditekan. Diplopia sendiri dibagi menjadi dua bagian yaitu diplopia monokular dan diplopia binokular. Faktor yang mempengaruhi diplopia adalah sifat fisis mata, faktor stimulus dan faktor retina. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar