LEMBAR PRAKTIKUM PSIKOLOGI FAAL
|
Nama Mahasiswa :
Fika Rahmawati
NPM : 14514200
Tanggal Pemeriksaan : 17 April
2015
|
Nama Asisten : 1. Laras Dwi Puspita
2. Amalia Oktaviani
Paraf Asisten :
|
1.
Percobaan :
Indra Penglihatan
Nama Percobaan :
Refleks (Reaksi Pupil)
Nama Subjek Percobaan
: Maytri Nur Adha
Tempat Percobaan
: Laboraturium Psikologi
Faal
a.
Tujuan
Percobaan :
Mengetahui serta memahami reaksi-reaksi yang terjadi pada pupil mata.
b.
Dasar
Teori :
Pupil yang normal akan sama antara mata kiri dan mata kanan. Berukuran 2-4 mm.
Bentuk pupil yang normal adalah bulat. Pupil yang berbentuk oval mungkin
merupakan tanda awal herniasi tentorial. Pupil yang berbentuk key hold dapat
ditemukan pada pasien setelah operasi katarak. Secara normal, pupil akan
memberikan reaksi yang cepat terhadap cahaya terang, karena pupil berfungsi
sebagai diafragma yang mengatur jumlah sinar yang sampai ke retina. Jika reaksi
tersebut lambat, itu menunjukkan adanya penekanan parsial pada nervus III,
sedangkan jika penekanan tersebut komplit maka reaksi tersebut tidak akan
dijumpai. Bila benda dekat dengan mata maka otot berkontraksi agar legkung
lensa meningkat. Jika benda jauh, maka siliaris berkontraksi agar pipih supaya
bayangan benda pada retina menjadi tajam. Akomodasi mengubah ukuran pupil,
kontraksi iris, kontraksi iris membuat pupil mengecil dan melebar. Jika sinar
terlalu banyak maka pupil menyempit agar sinar tidak seluruhnya masuk ke dalam
mata. Dalam keadaan gelap pupil melebar agar sinar banyak ditangkap. Respon
dalam melihat benda : jika mata melihat jauh kemudian melihat dekat maka pupil
berkontraksi agar terjadi peningkatan ke dalam lapang penglihatan.
c.
Alat
yang Digunakan :
Cermin, senter, dan sedotan (15mm)
d.
Jalannya
Percobaan : 1.
Salah satu mata ditutup dengan tangan lalu mata yang satunya diberi cahaya
senter.
2. Kita memegang kaca, lalu dengan senter
diterangi bola matanya.
3. Fokuskan satu titik cahaya di sedotan
menggunakan senter, lalu arahkan ke bola mata.
e.
Hasil
Percobaan : 1. Hasil
Percobaan : 1.1 Pupil bergerak dan lama-lama mengecil
1.2
Pupil dimata sedikit-sedikit bergerak
1.3 Pupil dimata sedikit-sedikit bergerak
2.
Hasil Sebenarnya : 1. Mata yang terkena cahaya secara tiba-tiba, pupil
akan mengecil cepat dan iris mendekat cepat. Mata yang tidak terkena cahaya
tiba-tiba, pupil mengecil secara lambat dan iris mendekat secara lambat
2.
Pupil mata terantung iris (semacam otak kecil), iris mempunyai 2 sifat yaitu :
3.
Mendekati jika cahaya terlalu cepat
4.
Menjauhi ketika cahaya masuk terlalu redup
5.
Jika mata tidak siap terkena cahaya, pupil mengecil secara langsung, namun jika
siap terkena cahaya, pupil mengecil perlahan
f.
Kesimpulan
:
Mata adalah alat indra yang digunakan untuk melihat suatu objek. Bagian-bagian
yang ada pada mata kita ada kornea, pupil, iris, aquos humor, lensa, vitrous
humor, retina, lensa, sklera,saraf optik, bintik kuning, blind spot dan
khoroid. Pupil yang normal akan sama antara mata kiri dan mata kanan. Berukuran
2-4 mm. Bentuk pupil yang normal adalah bulat. Secara normal, pupil akan
memberikan reaksi yang cepat terhadap cahaya terang, karena pupil berfungsi
sebagai diafragma yang mengatur jumlah sinar yang sampai ke retina. Jika reaksi
tersebut lambat, itu menunjukkan adanya penekanan parsial pada nervus III,
sedangkan jika penekanan tersebut komplit maka reaksi tersebut tidak akan
dijumpai.
2. Nama Percobaan : Aliran Darah Retina
(Peristiwa Entropis)
Nama Subjek Percobaan
: Maytri Nur Adha
Tempat Percobaan
: Laboratorium Psikologi
Faal
a.
Tujuan
Percobaan :
Melihat pada mata terdapat eritrosit yang berjalan sepanjang pembuluh darah
arteri/vena
b.
Dasar
Teori :
c.
Alat
yang Digunakan :
Senter dan Kaca Reben (Kaca Hitam)
d.
Jalannya
Percobaan : 1.
Subjek percobaan melirik ke arah kanan lalu saya melihat aliran darah
meggunakan senter 2. Subjek percobaan melirik ke arah kanan lalu saya melihat
aliran darah retina menggunakan senter dan kaca reben
e.
Hasil
Percobaan :
1. Hasil Percobaan : 1.1 Terlihat garis merah seperti aliran darah di matanya.
1.2 Terlihat garis merah seperti aliran darah di matanya.
2. Hasil
Sebenarnya : Jika praktikan melirik ke arah kiri dan dari arah kanan matanya
diberi cahaya senter dan sebaliknya, maka retina akan terlihat pembuluh arteri
(pembuluh darah yang membawa darah dari jantung ke seluruh tubuh disebut
pembuluh nadi)/vena (pembuluh balik) yang bergerak.
3. Nama Percobaan : Visus
Nama Subjek Percobaan
: Fika Rahmawati
Tempat Percobaan
: Laboratorium Psikologi
Faal
a.
Tujuan
Percobaan : Mengetahui
ketajaman penglihatan seseorang
b.
Dasar
Teori :
Untuk dapat melihat, stimulus (cahaya) harus jatuh di reseptor dalam retina
kemudian diteruskan ke pusat penglihatan (fovea centralis). Untuk dapat
melihat dengan baik perlu ketajaman penglihatan. Ketajaman penglihatan inilah
yang disebut visus. Faktor-faktor yang mempengaruhi kekuatan visus
adalah:
a. Sifat fisis mata, meliputi ada tidaknya
aberasi (kegagalan sinar untuk berkonvergensi atau bertemu di satu titik
fokus setelah melewati suatu sistem optik),besarnya pupil, komposisi cahaya, ftksasi
objek, dan mekanisme akomodasinya dengan elastisitas musculusciliarisnya
yang dapat menyebabkan ametropia yang meliputi :
1) Myopia, sinar sejajar axis
pada mata tak berakomodasi akan memusat di muka
retina, sehingga bayangan kabur. Dapat
disebabkan oleh: axis terlalu panjang
kekuatan refraksi lensa terlalu kuat
2) Hypermetropia, sinar
sejajar axis pada mata yang tak berakomodasi akan memusat di belakang retina,
sehingga bayangan kabur. Dapat disebabkan oleh:
axis bola mata terlalu pendek kekuatan
refraksi lensa kurang kuat
3) Astigmatisma, kesalahan
refraksi sistem lensa mata yang biasanya disebabkan oleh komea yang berbentuk
bujur sangkar atau jarang-jarang, dan lensa yang berbentuk bujur).
b. Faktor stimulus, yang meliputi
kontras (terbentuknya bayangan benda yang berwama komplementemya), besar
kecilnya stimulus, lamanya melihat, dan intensitas cahaya.
c. Faktor Retina, yaitu makin kecil dan
makin rapat conus, makin kecil minimum
separable
Uarak terkecil antara garis yang masih terpisah).
Untuk mengetahui visus adalah dengan
menggunakan suatu pecahan matematis yang menyatakan perbandingan 2jarak, yang
juga merupakan perbandingan ketajaman penglihatan seseorang dengan ketajaman
penglihatan orang normal. Dalam praktek digunakan optotype dari
Snellen yang rumusnya adalah sebagai berikut:
V= d
D
Keterangan:V = Visus
d=jarak antara optotype dengan subjek yang
diperiksa
D =jarak sejauh mana huruf-huruf masih dapat
dibaca mata normal
Visus berkaitan erat dengan mekanisme
akomodasi seperti yang telah disebutkan di atas, adanya kontraksi akan
menyebabkan peningkatan kekuatan lensa, sedangkan relaksasi menyebabkan
pengurangan kekuatan. Akomodasi memiliki batas maksimum, jika benda yang telah
fokus didekatkan lagi, maka bayangan akan kabur. Titik terdekat yang masih
dilihat jelas oleh mata dengan akomodasi maksimum disebut punctum proximum
(PP).
Makin tua usia seseorang, makin jauh
jarak PP; disamping itu elastisitas lensa juga berkurang dan daya mencembung
juga berkurang (disebut PRESBYOPIA). Berkurangnya elastisitas oleh proses
penuaan adalah akibat terjadinya kalsifikasi (pengapuran). Endapan-. endapan
kapur ini menghambat elastisitas mata. Kalsifikasi ini juga dapat menyebabkan
katarak pada kornea. Titik terjauh yang masih dapat dilihat dengan jelas tanpa
mata berakomodasi adalah tidak terbatas."Kondisi ini disebut denganpunctum
remotum (PR).
c.
Alat
yang Digunakan :
Snellen Chart (Optotype Snellen)
d.
Jalannya
Percobaan : Dari
jarak yang sedikit jauh, mata kita ditutup satu lalu melihat ke Optotype
Snellen dari jarak 3,5 m
e.
Hasil
Percobaan :
1. Hasil Percobaan : Mata kiri = 60 dan Mata kanan = 200
Ketika dihitung
mengguakan rumus visus maka hasilnya :
|
a) V= d
= 3,5 = 0,0583
D
60
b) V= d
= 3,5 = 0,0175
D
200
|
2.
Hasil Sebenarnya : Tidak ada hasil yang sebenarnya
f.
Kesimpulan
: Jadi, dalam proses
penglihatan dibutuhkan ketajaman penglihatan yang digunakan untuk melihat suatu
objek tertentu. Ketajaman penglihatan disini disebut dengan Visus. Ada beberapa faktor yang
mempengaruhi ketajaman Visus yaitu sifat fisis mata, faktor stimulus dan faktor
retina. Dalam percobaan diatas, kita dapat mengukur tingkat ketajaman mata kita
menggunakan Optotype Snellen. Didalam
pengukuran menggunakan Optotype Snellen kita
dapat mengunakan rumus : V=d/D. Hasil yang sebenarnya dari percobaan itu memang
tidak ada karena setiap individu yang mengukur ketajaman matanya menggunakan
Optotype Snellen mempunyai hasil yang berbeda-beda.
4. Nama Percobaan : Membedakan warna dan
pecampuran warna secara objektif
Nama Subjek Percobaan
: Fika Rahmawati
Tempat Percobaan
: Laboratorium Psikologi
Faal
a.
Tujuan
Percobaan :
Mengetahui apakah seseorang dapat membedakan warna/buta warna
b.
Dasar
Teori :
Untuk menyelidiki apakah seseorang menderita buta warna atau tidak dapat
dilakukan dengan berbagai macam tes,salah satu diantaranya adalah TES HOLMGREN,
yaitu tes kemampuan membedakan warna (caranya, pemeriksa mengambil sekumpulan
benang-benang wol berturut-turut seutas dengan warna hijau, merah, ungu, dan
kuning, kemudian subjek yang diperiksa diminta untuk mencari gulungan benang
yang warnanya sama).
c.
Alat
yang Digunakan :
Kaca reben, benang wol sebagai warna, kertas berwarna merah, kuning dan hijau
d.
Jalannya
Percobaan : 1. Kaca
reben ditaruh diatas kertas dengan warna tertentu
2. Kumpulan benang dicocokkan dengan warna
yang sudah ditentukan oleh asisten laboratorium
e.
Hasil
Percobaan :
1. Hasil Percobaan : 1.1 Kertas warna merah + biru menjadi ungu kertas warna
merah + kuning menjadi kuning kertas warna kuning dan biru menjadi hijau
1.2 Salah = 2 Benar = 3
2.
Hasil Sebenarnya : 2.1 Membedakan warna
Kertas merah + kertas
biru = ungu
Kertas
merah + kertas kuning = orange
Kertas
biru + kertas kuning = hijau
2.2
Percobaan dengan wol
Percobaan dengan benang
wol disebut dengan uji Holmgren hijau merupakan warna penetral.
f.
Kesimpulan
: Dalam proses
percobaan untuk membedakan warna dan pencampuran warna secara objektif kita
melakuka dua percobaan yang berbeda. Pertama dengan kaca hitam yang diletakkan
di atas kertas karton yang berwarna dan yang kedua menggunakan 1 gulung benang
wol yang sudah dicampur menjadi satu atau test Holmgren. Test semacam ini
digunakan untuk memeriksa apakah seseorang itu menderita buta warna atau tidak.
5. Nama Percobaan : Diplopia
Nama Subjek Percobaan
: Fika Rahmawati
Tempat Percobaan
: Laboratorium Psikologi
Faal
a.
Tujuan
Percobaan : Membuktikan
terjadinya diplopia / adanya titik-titik dispar kedua matat yang memberikan
kesan rangkap (dobel)
b.
Dasar
Teori : Diplopia adalah penglihatan kembar
yang paling umum dan disebabkan oleh gangguan koordinasi otot kedua mata,
sehingga bayangan objek tidak terjatuh pada bagian-bagian retina identik. Titik
disparat adalah titik-titik garis benda bayangan yang tidak sejelas garis benda
asli. Kesan rangkap dua atau dobel ini terjadi karena titik identik (bintik
kuning/fovea nasalis) diganggu karena ada pergeseran letak bintik kuning saat
pelupuk mata ditekan. Bila kita melihat satu benda dengan kedua mata maka benda
tersebut dapat terlihat dengan baik karena jatuh di titik identik, tetapi bila
salah satu bola mata terganggu maka akan terlihat benda rangkap karena tida
jatuh di titik identik.
Diplopia atau
penglihatan ganda adalah salah satu gangguan penglihatan dimana objek terlihat
rangkap dua. Diplopis terbagi menjadi 2 jenis yaitu : 1. Diplopia monokular
Diplopia monokular
merupakan keluhan yang dapat diberikan oleh penderita dan sebaiknya
diperhatikan adanya kelainan refraksi.diplopia monokular sering dikeluhkan oleh
penderita katarak. 2. Diplopa binokular
Diplopia binokular
disebabkan karena terjadi miastenis gravis, parase, atau para lisis otot
penggerak mata ekstrackuar. Kelainan yang dapat memberikan keluhan diplopia
binokular terdapat juga pada aniseikonia dan psikogenetik. Faktor-faktor yang
mempengaruhi diplopia adalah faktor yang berhubungan dengan sifat-sifat fisis
mata untuk dapat membentuk bayangan nyata dari retina, faktor stimulus yang
berhubungan dengan intensitas stimulus cahaya, dan faktor dari retina.
Bayangan dapat terletak
berdampingan terhadap yang lainnya, sehingga dikenal bentuk diplopia :
a. Diplopia
Homorin (diplopia tidak bersilang adalah suatu keadaan pada mata dengan julung
ke dalam, dimana bayangan terlihat oleh mata yang juling ke dalam terletak dibagian luar sisi yang
sama benda asli nya.
b. Diplopia
Neterosim (diplopia bersilang) terjadi pada mata dengan juling keluar. Dimana
benda yang terlihat oleh mata kanan terletak disebelah kiri dan sebaliknya.
c. Diplopia
monokular bilsa melihat dengan satu maya yang dapat dikeluhkan seseorang dengan
astigma, histeria, pupil ganda dan permulaan katarak.
c.
Alat
yang Digunakan :
Spidol (alat tulis)
d.
Jalannya
Percobaan : Mata
sedikit di tekan, lalu melihat ke arah bolpoin
e.
Hasil
Percobaan :
1. Hasil Percobaan : Bolpoin iu berbayang dan terlihat ada 2
2.
Hasil Sebenarnya : Benda yang terlihat akan terkesan rangkap (dobel)
f.
Kesimpulan
: Diplopia atau
penglihatan ganda terjadi karena titik garis benda bayangan yang tidak sejelas
garis benda asli. Kesan rangkap terjadi karena bintik kuning mata diganggu
dengan cara pelipis mata sedikit ditekan. Diplopia sendiri dibagi menjadi dua
bagian yaitu diplopia monokular dan diplopia binokular. Faktor yang mempengaruhi
diplopia adalah sifat fisis mata, faktor stimulus dan faktor retina.